Memahami Intermittent Explosive Disorder: gejala, penyebab, dan dampak penting agar kita tidak menganggap ledakan amarah sebagai hal yang “biasa saja”. Sebagian orang memang mudah tersulut emosi, tetapi ketika kemarahan muncul sangat intens, tiba-tiba, dan terasa sulit dikendalikan, kondisi ini bisa mengarah pada Intermittent Explosive Disorder (IED).
Karena itu, memahami gangguan ini membantu kita lebih peka terhadap tanda-tanda yang muncul, baik pada diri sendiri maupun orang terdekat.
Apa Itu Intermittent Explosive Disorder?
Intermittent Explosive Disorder (IED) adalah gangguan pengendalian impuls yang membuat seseorang mengalami ledakan amarah, sering kali tidak sebanding dengan pemicunya.
Seseorang dengan IED bisa marah besar karena hal kecil. Responsnya dapat berupa teriakan, makian, membanting barang, bahkan agresi fisik. Meskipun ledakan ini biasanya berlangsung singkat, dampaknya bisa terasa lama.
Di sisi lain, setelah emosi mereda, banyak individu merasa menyesal, malu, atau bersalah. Namun tanpa penanganan yang tepat, pola ini cenderung berulang.
Gejala Intermittent Explosive Disorder
Gejala IED umumnya muncul secara tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 30 menit. Meski singkat, intensitasnya tinggi.
Beberapa tanda yang sering terlihat antara lain:
- Jantung berdebar dan tubuh terasa tegang
- Sulit berpikir jernih saat marah
- Berteriak atau mengucapkan kata-kata kasar
- Dorongan merusak barang atau menyakiti orang lain
Selain itu, sebagian orang juga mengalami rasa lelah atau penyesalan mendalam setelah ledakan emosi terjadi.
Penyebab Intermittent Explosive Disorder
Para ahli belum menemukan satu penyebab pasti. Namun, berikut beberapa faktor berikut sering berperan dan memengaruhi:
- Faktor Biologis dan Fungsi Otak
Gangguan pada fungsi amigdala dapat membuat respons amarah menjadi lebih impulsif. Kadar serotonin yang rendah juga berhubungan dengan kesulitan mengendalikan dorongan agresif.
Di samping itu, stres kronis meningkatkan hormon stres dalam tubuh. Kondisi ini membuat sistem saraf lebih reaktif terhadap pemicu kecil.
- Faktor Genetik
Riwayat keluarga dengan gangguan impuls atau perilaku agresif dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap IED.
- Faktor Lingkungan dan Trauma
Pengalaman kekerasan di masa kecil, pola asuh yang keras, atau kebiasaan memendam emosi dapat membentuk cara seseorang merespons konflik. Seiring waktu, tekanan emosi yang tidak tersalurkan bisa meledak dalam bentuk kemarahan ekstrem.
Baca Juga: Mengenal Love Languages dan Perannya dalam Kasih Sayang
Dampak Intermittent Explosive Disorder
Dampak IED tidak hanya muncul dalam bentuk konflik sesaat. Lebih jauh lagi, kondisi ini dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan.
Dari sisi kesehatan fisik, stres akibat kemarahan intens berulang meningkatkan risiko hipertensi, gangguan jantung, serta gangguan tidur. Bahkan, sebagian individu mengalami depresi atau kecemasan akibat rasa bersalah dan isolasi sosial.
Cara Mengelola Intermittent Explosive Disorder
Kabar baiknya, Intermittent Explosive Disorder dapat dikelola dengan bantuan yang tepat.
Pertama, terapi perilaku kognitif (CBT) membantu individu mengenali pola pikir yang memicu kemarahan. Melalui terapi ini, seseorang belajar mengganti respons impulsif dengan respons yang lebih sehat.
Selanjutnya, latihan relaksasi seperti pernapasan dalam, mindfulness, dan teknik grounding membantu menenangkan sistem saraf sebelum emosi memuncak.
Apabila ledakan amarah terjadi berulang dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan psikolog atau psikiater menjadi langkah yang bijak. Dengan pendampingan profesional, pengelolaan Intermittent Explosive Disorder dapat berjalan lebih terarah dan aman.
Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional?
Segera pertimbangkan bantuan profesional jika:
- Ledakan amarah terjadi berulang dan sulit dikendalikan
- Perilaku agresif mulai membahayakan diri sendiri atau orang lain
- Hubungan, pekerjaan, atau kesehatan terganggu akibat kemarahan
Semakin cepat seseorang mencari bantuan, semakin besar peluang untuk membangun pola regulasi emosi yang lebih sehat.
Baca Juga: Mengenali Child Grooming pada Anak: Tanda, Dampak, dan Cara Mencegahnya
Penutup
Setiap orang tentu pernah marah. Namun, ketika kemarahan muncul sangat intens dan terasa di luar kendali, penting untuk mengenali kemungkinan adanya Intermittent Explosive Disorder. Bukan untuk memberi label, melainkan untuk membuka jalan menuju kesembuhan.
Dengan dukungan yang tepat, setiap individu dapat belajar mengelola emosi secara lebih sehat dan membangun hubungan yang lebih stabil.
Untuk membaca berbagai informasi seputar psikologi dan kesehatan mental, kamu dapat mengunjungi website beningpsikologi.com. Ikuti juga media sosial Bening Psikologi untuk mendapatkan edukasi kesehatan mental yang ringan dan mudah dipahami:
Instagram : https://www.instagram.com/beningpsikologi01/
Youtube : https://www.youtube.com/@beningpsikologi/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@beningpsikologi/
Jika ledakan emosi mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau hubunganmu, kamu dapat menghubungi Bening Psikologi. Tim profesional kami siap mendampingi melalui sesi konseling dan terapi dengan pendekatan yang suportif dan aman.
Untuk informasi lebih lanjut dan penjadwalan konsultasi, silakan hubungi WhatsApp Admin kami di 0815 2980 6789.
Bening Psikologi, Solusi Kesehatan Mental Anda.


