Kata-kata orang tua bisa menetap di pikiran anak bukan hanya karena anak mengingat nasihat yang disampaikan. Dalam banyak situasi, anak justru lebih banyak menyerap pola yang terus berulang dalam kesehariannya.
Cara orang tua berbicara, merespons kesalahan, memberikan perhatian, atau menunjukkan emosi dapat membentuk cara anak memandang dirinya sendiri. Pengalaman emosional yang terjadi berulang kali sering kali lebih membekas dibandingkan satu atau dua nasihat.
Karena itu, pola interaksi yang konsisten memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan psikologis anak.
Anak Belajar dari Pola yang Terjadi Berulang
Anak membangun banyak pemahaman tentang dirinya melalui pola yang berulang.
Apa yang sering mereka dengar dapat berubah menjadi suara batin. Apa yang sering mereka lihat dapat membentuk cara mereka memahami dunia. Selain itu, apa yang sering mereka rasakan dapat memengaruhi keyakinan mereka tentang diri sendiri.
Misalnya, ketika anak berulang kali mendengar kalimat seperti “kamu selalu salah”, “jangan rewel”, atau “kamu lambat”, lama-kelamaan hal tersebut bisa menjadi bagian dari cara mereka memandang diri.
Di sisi lain, kalimat yang penuh penerimaan dan dukungan dapat membantu anak membangun keyakinan diri yang lebih sehat.
Mengapa Pola Berulang Sangat Berpengaruh pada Anak?
Masa anak-anak menjadi fase penting dalam perkembangan otak. Pada tahap ini, anak belajar memahami lingkungan melalui pola yang muncul secara konsisten.
Pola berulang membuat sesuatu terasa normal, aman, dan benar di mata anak. Karena itu, pola yang terus terjadi dapat membentuk cara anak berpikir dan merespons diri sendiri.
Sebagai contoh, anak yang sering menerima kritik berlebihan dapat tumbuh dengan rasa ragu terhadap kemampuan dirinya. Selain itu, mereka juga menjadi lebih takut melakukan kesalahan atau terlalu bergantung pada pengakuan dari orang lain.
Baca Juga: Mengapa Remaja Mudah Terpengaruh Lingkungan?
Kalimat yang Bisa Menjadi “Suara Batin” Anak
Sebagian kalimat yang terdengar sederhana ternyata dapat menetap dalam pikiran anak dalam waktu yang lama.
Beberapa contohnya:
- “Kamu kok begitu terus” dapat berkembang menjadi rasa malu
- “Kamu harus sempurna” dapat memicu rasa takut gagal
- “Kamu merepotkan” dapat memunculkan rasa tidak berharga dalam diri anak
- “Tidak apa-apa salah, kita belajar bersama” dapat membantu anak membangun keberanian mencoba kembali
Karena itu, cara berbicara kepada anak memiliki peran penting dalam membentuk self-worth atau penghargaan terhadap diri sendiri.
Bahasa yang Membangun dan Bahasa yang Menyakiti
Bahasa yang digunakan orang tua dapat membantu anak berkembang atau justru melukai perasaannya.
Bahasa yang Membangun
Bahasa yang membangun biasanya:
- Fokus pada perilaku, bukan identitas anak
- Memberikan koreksi tanpa merendahkan
- Memberikan rasa aman sekaligus batasan yang jelas
- Menghargai usaha dan proses belajar anak
Bahasa yang Menyakiti
Di sisi lain, beberapa pola komunikasi dapat berdampak kurang baik jika terus berulang.
Contohnya:
- Memberikan label seperti “malas”, “nakal”, atau “bodoh”
- Menggunakan kalimat yang terlalu menggeneralisasi seperti “selalu” atau “tidak pernah”
- Membandingkan anak dengan orang lain
- Menggunakan ancaman atau penghinaan
Cara Membantu Anak Membangun Self-Worth yang Sehat
Self-worth tidak tumbuh dalam satu hari. Anak membangunnya melalui pengalaman yang konsisten. Beberapa hal yang dapat membantu antara lain:
- Tetap Menerima Anak Saat Mereka Berbuat Salah
Anak tetap membutuhkan rasa aman, bahkan ketika melakukan kesalahan.
- Dengarkan Anak dengan Sungguh-Sungguh
Anak akan merasa lebih dihargai ketika orang tua benar-benar mendengarkan.
- Berikan Apresiasi yang Spesifik
Fokus pada usaha, proses, dan perkembangan anak dapat membantu rasa percaya dirinya tumbuh lebih sehat.
- Tetapkan Batasan Tanpa Mempermalukan
Orang tua tetap dapat memberikan aturan tanpa menggunakan kata-kata yang merendahkan.
Baca Juga: Apa Itu Kenakalan Remaja? Ini Penyebab dan Dampaknya
Penutup
Anak tidak hanya belajar dari nasihat yang mereka dengar, tetapi juga dari pola yang mereka alami setiap harinya. Oleh karena itu, cara orang tua berbicara, merespons emosi, dan mendampingi anak dapat membentuk cara anak memandang dirinya sendiri.
Kalimat yang diulang terus-menerus dapat menetap menjadi suara batin anak. Karena itu, membangun komunikasi yang hangat, aman, dan penuh penerimaan dapat membantu anak tumbuh dengan rasa percaya diri dan penghargaan diri yang lebih sehat.
Untuk membaca berbagai informasi seputar psikologi dan kesehatan mental, kamu dapat mengunjungi website beningpsikologi.com. Ikuti juga media sosial Bening Psikologi untuk mendapatkan edukasi kesehatan mental yang ringan dan mudah dipahami:
Instagram : https://www.instagram.com/beningpsikologi01/
Youtube : https://www.youtube.com/@beningpsikologi/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@beningpsikologi/
Jika pola komunikasi di rumah mulai mengganggu hubungan dengan anak atau kestabilan emosional keluarga, kamu dapat menghubungi Bening Psikologi. Tim profesional kami siap mendampingi melalui sesi konseling dengan pendekatan yang suportif dan aman.
Untuk informasi lebih lanjut dan penjadwalan konsultasi, silakan hubungi WhatsApp Admin kami di 0815 2980 6789.
Bening Psikologi, Solusi Kesehatan Mental Anda.


