“Sudah, yang penting sabar saja.”
“Pasti ada hikmahnya, jangan dipikirkan terus.”
Kalimat seperti ini sering muncul ketika seseorang sedang menghadapi masalah. Niatnya mungkin ingin menyemangati. Namun bagi orang yang sedang terluka, respons tersebut kadang terasa seperti menutup ruang untuk bercerita.
Situasi seperti ini sering berkaitan dengan toxic positivity, yaitu dorongan untuk selalu terlihat kuat dan positif meskipun seseorang sedang mengalami kesulitan.
Dalam beberapa situasi, pesan seperti ini juga muncul dalam konteks agama. Nasihat religius sebenarnya bisa memberi kekuatan. Namun jika digunakan tanpa empati, kalimat tersebut justru dapat membuat seseorang merasa tidak dipahami.
Apa Itu Toxic Positivity?
Toxic positivity merupakan kecenderungan untuk memaksakan sikap positif secara berlebihan. Dalam kondisi ini, emosi seperti sedih, kecewa, atau marah sering dianggap sebagai sesuatu yang tidak seharusnya dirasakan.
Padahal, emosi tersebut merupakan bagian alami dari kehidupan manusia. Ketika seseorang menghadapi kegagalan, kehilangan, atau tekanan hidup, perasaan negatif biasanya muncul sebagai respons yang wajar.
Namun jika lingkungan terus menuntut sikap positif, seseorang bisa mulai merasa bersalah karena sedang tidak baik-baik saja.
Ketika Nasihat Agama Terasa Menekan
Dalam banyak komunitas, nasihat agama sering digunakan untuk menguatkan seseorang. Misalnya dengan mengingatkan tentang kesabaran, hikmah, atau pentingnya berprasangka baik kepada Tuhan.
Namun masalah muncul ketika nasihat tersebut membuat orang berhenti membicarakan masalah yang sebenarnya terjadi.
Sebagai contoh, seseorang mungkin mengalami konflik keluarga atau tekanan berat dalam hubungan. Alih-alih mendapat empati, ia justru mendapat respons seperti “Sabar saja, pasti ada hikmahnya.”
Akibatnya, orang tersebut bisa merasa tidak memiliki ruang aman untuk bercerita.
Selain itu, konten motivasi keagamaan di media sosial juga kadang mendorong pesan “harus selalu positif” tanpa membahas akar masalah yang lebih kompleks.
Baca Juga: Toxic Positivity di Tempat Kerja: Saat Harus Selalu “Positif” Justru Bikin Tertekan
Dampak Toxic Positivity dalam Lingkungan Keagamaan
Ketika toxic positivity terus terjadi, beberapa dampak bisa muncul.
Pertama, orang yang sedang mengalami kesulitan menjadi enggan berbicara karena takut dianggap kurang beriman. Kedua, emosi negatif sering dipendam terlalu lama.
Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, stres bisa menumpuk dan memengaruhi kesehatan mental. Bahkan, sebagian orang akhirnya merasa jauh dari makna spiritual yang sebenarnya ingin mereka rasakan.
Padahal, agama seharusnya menjadi ruang yang menghadirkan empati, dukungan, dan harapan.
Husnuzan Bukan Toxic Positivity
Dalam Islam, konsep husnuzan berarti berprasangka baik kepada Tuhan. Namun sikap ini tidak berarti seseorang harus mengabaikan emosi yang sedang ia rasakan.
Husnuzan justru mengajak seseorang untuk tetap percaya bahwa setiap ujian memiliki makna, Husnuzan mengajak seseorang tetap percaya pada makna di balik ujian
Sebaliknya, toxic positivity sering menuntut seseorang untuk langsung terlihat kuat tanpa memberi ruang bagi emosi yang muncul.
Cara Menghindari Toxic Positivity
Ada beberapa cara sederhana agar kita tidak terjebak dalam toxic positivity, terutama ketika ingin mendukung orang lain.
- Dengarkan Cerita Orang Lain
Ketika seseorang sedang menghadapi masalah, mendengarkan sering kali jauh lebih membantu daripada langsung memberi nasihat.
- Akui Perasaan yang Muncul
Sedih, marah, atau kecewa merupakan emosi yang wajar. Mengakui perasaan tersebut membantu seseorang memproses pengalaman hidupnya.
- Seimbangkan Spiritualitas dan Empati
Nilai-nilai agama dapat menjadi sumber kekuatan. Namun dukungan emosional juga tetap penting.
Dengan pendekatan ini, sikap positif tetap hadir tanpa mengabaikan situasi yang sedang dihadapi seseorang.
Baca Juga: Parentifikasi: Dampak Anak yang Dipaksa Dewasa Sebelum Waktunya
Penutup
Sikap positif memang dapat membantu seseorang bertahan dalam situasi sulit. Namun toxic positivity bisa muncul ketika tuntutan untuk selalu terlihat kuat justru membuat orang tidak memiliki ruang untuk jujur tentang perasaannya.
Dalam kehidupan beragama, iman tidak berarti menolak emosi. Sebaliknya, menerima perasaan yang muncul dapat membantu seseorang memahami dirinya dan menghadapi ujian hidup dengan lebih baik.
Untuk membaca berbagai informasi seputar psikologi dan kesehatan mental, kamu dapat mengunjungi website beningpsikologi.com. Ikuti juga media sosial Bening Psikologi untuk mendapatkan edukasi kesehatan mental yang ringan dan mudah dipahami:
Instagram : https://www.instagram.com/beningpsikologi01/
Youtube : https://www.youtube.com/@beningpsikologi/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@beningpsikologi/
Jika kamu sedang menghadapi tekanan emosional atau membutuhkan ruang aman untuk bercerita, kamu dapat menghubungi Bening Psikologi. Tim profesional kami siap mendampingi melalui layanan konseling yang suportif dan aman.
Untuk informasi lebih lanjut dan penjadwalan konsultasi, silakan hubungi WhatsApp Admin kami di 0815 2980 6789.
Bening Psikologi, Solusi Kesehatan Mental Anda.


