Rasa percaya diri anak tidak terbentuk dalam semalam. Cara orang tua berbicara, merespons kesalahan, memberi batasan, hingga memberi kesempatan anak mencoba dapat ikut membentuk bagaimana anak melihat dirinya sendiri. Penelitian di Indonesia juga menunjukkan adanya hubungan antara pola asuh dan kepercayaan diri anak.
Menariknya, kebiasaan yang berdampak kurang baik tidak selalu dilakukan karena orang tua berniat buruk. Beberapa justru muncul dari keinginan untuk melindungi, mendidik, atau memotivasi anak.
1. Terlalu sering membandingkan anak
Membandingkan anak dengan saudara, teman, atau anak lain sering dianggap bisa memotivasi. Namun, jika dilakukan terus-menerus, anak dapat merasa bahwa dirinya selalu kurang dibandingkan orang lain.
Ucapan seperti, “Kok kamu tidak bisa seperti kakak?” atau “Temanmu saja sudah bisa,” dapat membuat anak melihat pencapaian orang lain sebagai ukuran nilai dirinya. Kebiasaan membandingkan juga dikaitkan dengan rasa tidak percaya diri dan penilaian diri yang lebih negatif.
Daripada membandingkan, orang tua dapat melihat perkembangan anak dari dirinya sendiri. Misalnya, “Dulu kamu belum berani bertanya, sekarang sudah mau mencoba.”
2. Lebih sering mengkritik daripada mengapresiasi usaha
Koreksi tetap diperlukan dalam proses mendidik anak. Namun, ketika kritik jauh lebih sering terdengar daripada apresiasi, anak bisa mulai merasa bahwa dirinya selalu salah.
Cobalah memberikan umpan balik yang lebih spesifik. Misalnya, daripada mengatakan, “Kok nilaimu jelek?”, orang tua bisa mengatakan, “Bagian ini masih bisa diperbaiki. Yuk, kita lihat bersama.”
Dengan begitu, anak memahami bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar, bukan bukti bahwa dirinya tidak mampu.
3. Terlalu cepat menyelesaikan masalah anak
Membantu anak memang merupakan bentuk perhatian. Namun, jika orang tua selalu mengambil alih setiap masalah, anak kehilangan kesempatan untuk belajar mencari solusi sendiri.
Misalnya, ketika anak lupa mengerjakan tugas, orang tua langsung menghubungi guru untuk menjelaskan. Sesekali mengalami konsekuensi yang wajar justru dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar bertanggung jawab.
Anak membutuhkan ruang untuk mencoba, melakukan kesalahan kecil, dan menemukan bahwa dirinya mampu menghadapi masalah.
4. Mengabaikan pendapat dan perasaan anak
Ketika anak sedang bercerita lalu sering dipotong, dianggap berlebihan, atau langsung diberi nasihat, anak dapat belajar bahwa pendapatnya tidak terlalu penting.
Padahal, mendengarkan tidak selalu berarti menyetujui. Orang tua tetap bisa memiliki aturan sambil menunjukkan bahwa perasaan dan pendapat anak layak didengar.
Cobalah bertanya, “Menurutmu bagaimana?” atau “Apa yang membuat kamu merasa seperti itu?” sebelum langsung memberikan solusi.
5. Terlalu fokus pada kesempurnaan
Nilai sempurna, menjadi juara, atau selalu melakukan sesuatu tanpa kesalahan tentu merupakan pencapaian yang membanggakan. Namun, jika hanya hasil sempurna yang mendapat apresiasi, anak dapat merasa bahwa kesalahan adalah sesuatu yang harus ditakuti.
Akibatnya, anak mungkin menjadi ragu mencoba hal baru karena takut hasilnya tidak cukup baik.
Orang tua dapat mulai mengapresiasi proses dengan mengatakan, “Aku lihat kamu sudah berusaha keras,” atau “Kamu tetap mencoba meski tadi sempat kesulitan.”
6. Menggunakan rasa malu atau label negatif sebagai disiplin
Ucapan seperti “Dasar pemalas”, “Kamu bodoh sekali”, atau “Kamu bikin malu keluarga” tidak lagi mengoreksi perilaku, tetapi menyerang pribadi anak.
Jika terus berulang, label tersebut dapat memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Karena itu, ketika perlu menegur, fokuslah pada perilakunya.
Misalnya, daripada mengatakan “Kamu memang pemalas,” lebih baik mengatakan, “Tugasmu belum selesai. Setelah ini, mari kita atur waktu supaya bisa diselesaikan.”
7. Membuat anak merasa kasih sayang bergantung pada pencapaian
Anak perlu tahu bahwa kasih sayang orang tua tidak hilang hanya karena ia mendapat nilai rendah, melakukan kesalahan, atau tidak memenuhi harapan.
Ketika perhatian dan apresiasi hanya muncul saat anak berprestasi atau menurut, anak dapat belajar bahwa dirinya harus selalu memenuhi standar tertentu agar merasa diterima.
Karena itu, tetap tunjukkan kasih sayang bahkan ketika sedang memberikan batasan. Orang tua dapat mengatakan, “Mama tetap sayang kamu. Kita tetap perlu memperbaiki kesalahan ini bersama.”
Baca Juga: Pelatihan Psikoterapi Powerful 2026
Apa Dampaknya bagi Kepercayaan Diri Anak?
Satu kebiasaan saja tidak otomatis membuat anak kehilangan kepercayaan diri. Namun, pola komunikasi dan pengasuhan yang terus berulang dapat memengaruhi cara anak menilai kemampuan dirinya.
Beberapa tanda yang mungkin terlihat antara lain:
- Sering ragu mengambil keputusan
- Takut mencoba hal baru
- Mudah merasa gagal
- Terlalu membutuhkan validasi dari orang lain
- Menjadi terlalu perfeksionis
- Menghindari tantangan karena takut melakukan kesalahan
Sebaliknya, pola asuh yang memberi ruang, dukungan emosional, dan kesempatan bagi anak untuk mencoba dapat membantu membangun kepercayaan dirinya.
Apa yang Bisa Mulai Dilakukan Orang Tua?
Tidak perlu mengubah semuanya sekaligus. Orang tua dapat memulainya dari beberapa kebiasaan sederhana:
- Dengarkan lebih dulu sebelum memberi solusi: Berikan kesempatan anak menyampaikan cerita dan pendapatnya.
- Apresiasi proses, bukan hanya hasil: Perhatikan usaha, keberanian mencoba, dan cara anak menyelesaikan masalah.
- Berikan kesempatan untuk mandiri: Biarkan anak mengambil keputusan dan menghadapi konsekuensi yang sesuai dengan usianya.
- Koreksi perilaku, bukan menyerang pribadi: Anak perlu memahami bahwa tindakannya bisa diperbaiki tanpa merasa bahwa dirinya adalah “anak yang buruk”.
- Tunjukkan bahwa cinta tidak bergantung pada prestasi: Anak perlu merasa tetap diterima meskipun ia melakukan kesalahan.
Dengan perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten, rumah dapat menjadi tempat yang membantu anak membangun keyakinan bahwa dirinya berharga sekaligus mampu belajar dan berkembang.
Baca Juga: Anak Sering Mengabaikan Perkataan Orang Tua? Cari Tahu Jawabannya
Penutup
Kepercayaan diri anak dapat dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk pengalaman sehari-hari bersama orang tua. Kebiasaan membandingkan, terlalu banyak mengkritik, terlalu cepat mengambil alih masalah, hingga menuntut kesempurnaan dapat membuat anak semakin ragu terhadap dirinya sendiri jika terus dilakukan.
Namun, orang tua tidak perlu menjadi sempurna untuk membantu anak tumbuh percaya diri. Yang penting adalah membangun pola komunikasi yang lebih hangat, memberi ruang untuk mencoba, menghargai proses, dan tetap menunjukkan kasih sayang ketika anak melakukan kesalahan.
Untuk membaca berbagai informasi seputar psikologi dan kesehatan mental, kamu dapat mengunjungi website beningpsikologi.com.
Ikuti juga media sosial Bening Psikologi untuk mendapatkan edukasi kesehatan mental yang ringan dan mudah dipahami:
Instagram : https://www.instagram.com/beningpsikologi01/
Youtube : https://www.youtube.com/@beningpsikologi/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@beningpsikologi/
Jika kamu merasa membutuhkan pendampingan dalam memahami pola pengasuhan atau perkembangan psikologis anak, kamu dapat berkonsultasi bersama tim profesional Bening Psikologi melalui layanan konseling yang aman dan suportif.
Untuk informasi lebih lanjut dan penjadwalan konsultasi, silakan hubungi WhatsApp Admin kami di 0815 2980 6789.
Bening Psikologi, Solusi Kesehatan Mental Anda.


