Anak yang sering mengabaikan perkataan orang tua memang bisa membuat frustrasi. Namun, perilaku ini tidak selalu berarti anak sedang “bandel” atau sengaja tidak mau menurut.
Ada beberapa hal yang bisa memengaruhinya, mulai dari perkembangan otak, kondisi emosional, sampai cara orang tua menyampaikan instruksi. Jadi, sebelum langsung memarahi anak, coba pahami dulu apa yang mungkin terjadi di balik perilaku tersebut.
Kenapa Anak Sering Mengabaikan Orang Tua?
1. Kemampuan perhatian anak masih berkembang
Kemampuan anak untuk mempertahankan perhatian, mengendalikan impuls, dan mengatur dirinya sendiri masih berkembang, terutama pada masa kanak-kanak dan remaja.
Karena itu, ketika sedang sangat fokus bermain atau melakukan aktivitas lain, anak bisa benar-benar kesulitan mengalihkan perhatian untuk mendengarkan perkataan orang tua. Bukan selalu karena ia sengaja mengabaikan.
2. Terlalu banyak instruksi
Jika terlalu banyak perintah, larangan, atau koreksi diberikan dalam waktu berdekatan, anak bisa mengalami instruction fatigue atau kelelahan menerima instruksi.
Akibatnya, semakin banyak orang tua berbicara, semakin sulit bagi anak untuk menangkap mana yang benar-benar perlu diperhatikan.
3. Anak belum melihat alasan untuk segera merespons
Bagi orang tua, instruksi seperti “ayo mandi” atau “rapikan mainan” mungkin dianggap suda cukup jelas dan penting. Namun, dari sudut pandang anak, aktivitas yang sedang dilakukan bisa terasa jauh lebih menarik.
Jika orang tua terbiasa mengulang instruksi berkali-kali, anak juga bisa belajar bahwa ia tidak perlu langsung merespons saat pertama kali dipanggil.
4. Ada jarak secara emosional
Anak biasanya lebih mudah menerima arahan ketika ia merasa terhubung dengan orang tuanya.
Sebaliknya, jika interaksi sehari-hari lebih banyak berisi kritik, teguran, atau perintah, anak bisa menjadi lebih tertutup. Dalam kondisi seperti ini, masalahnya mungkin bukan hanya soal “mau mendengar atau tidak”, tetapi juga tentang kualitas hubungan dengan anak.
5. Cara menyampaikan instruksi kurang sesuai
Instruksi yang terlalu panjang, tidak jelas, atau disampaikan ketika orang tua sedang marah bisa membuat anak bingung atau justru memilih untuk menutup diri.
Terlalu banyak aturan sekaligus juga bisa membuat anak kewalahan. Karena itu, semakin panjang penjelasan bukan berarti semakin mudah anak memahami apa yang harus dilakukan.
6. Anak sedang lapar, marah, lelah, atau stres
Kondisi fisik dan emosional juga berpengaruh terhadap kemampuan anak untuk memperhatikan dan memproses instruksi.
Saat anak lapar, marah, kesepian, lelah, atau sedang stres, kapasitasnya untuk menerima arahan bisa menurun. Misalnya, anak yang baru pulang sekolah dalam keadaan lelah mungkin membutuhkan waktu untuk beristirahat sebelum diminta melakukan beberapa hal sekaligus.
Baca Juga: Pelatihan Psikoterapi Powerful 2026
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Daripada terus mengulang perintah dengan suara yang semakin keras, beberapa pendekatan berikut bisa dicoba.
1. Bangun koneksi sebelum memberi instruksi
Pastikan perhatian anak sudah tertuju kepada kita. Dekati anak, lakukan kontak mata, atau tanyakan sebentar apa yang sedang ia lakukan.
Setelah anak benar-benar memperhatikan, barulah sampaikan instruksinya.
2. Berikan instruksi yang singkat dan jelas
Hindari memberikan banyak perintah sekaligus.
Daripada mengatakan “Ayo matikan TV, rapikan mainan, terus mandi, jangan lama-lama karena nanti makan.”
Coba bagi menjadi satu instruksi terlebih dahulu: “Ayo matikan TV dulu.” Setelah selesai, lanjutkan ke instruksi berikutnya.
Pastikan anak benar-benar mendengar. Jangan langsung menganggap anak mengabaikan kita. Setelah memberikan instruksi, kamu bisa memastikan pemahamannya dengan meminta anak mengulang apa yang perlu dilakukan.
3. Berikan pilihan yang terbatas
Anak juga membutuhkan rasa memiliki kendali. Memberikan pilihan sederhana bisa membuatnya lebih terlibat.
Pilihan tetap memiliki batas, tetapi anak diberi kesempatan untuk menentukan waktunya dalam batas tersebut.
4. Kurangi instruksi yang tidak perlu
Tidak semua hal harus langsung dikoreksi atau diperintahkan. Prioritaskan hal-hal yang memang penting.
Semakin sering anak menerima instruksi, semakin besar kemungkinan sebagian perkataan orang tua hanya disepelekan. Karena itu, pilih mana yang benar-benar perlu disampaikan.
5. Perhatikan waktu dan kondisi anak
Instruksi yang sama bisa diterima berbeda tergantung kondisi anak.
Kalau anak sedang sangat lelah, lapar, stres, atau terlalu fokus bermain, coba beri waktu untuk beralih sebelum meminta sesuatu. Pilih momen ketika anak lebih siap untuk mendengarkan.
Kapan Perlu Diperhatikan Lebih Lanjut?
Tidak semua perilaku mengabaikan orang tua menunjukkan masalah. Anak memang masih belajar mengatur perhatian, emosi, dan respons terhadap arahan.
Namun, jika kesulitan mendengarkan atau mengikuti instruksi terjadi secara konsisten di berbagai situasi dan mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua dapat mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional agar penyebabnya dapat dipahami dengan lebih menyeluruh.
Baca Juga: Sudah Punya Pasangan, tapi Masih Merasa Kesepian? Ini Alasannya
Penutup
Anak yang sering mengabaikan perkataan orang tua belum tentu sedang berusaha membangkang. Bisa jadi ia sedang kesulitan mengalihkan perhatian, sudah terlalu banyak menerima instruksi, sedang lelah, atau membutuhkan koneksi emosional yang lebih kuat.
Karena itu, sebelum bertanya, “Kenapa anak saya tidak mau mendengarkan?”, coba tanyakan juga, “Apakah cara saya menyampaikan pesan sudah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak?”
Memahami alasan di balik perilaku anak dapat membantu orang tua memilih respons yang lebih efektif sekaligus menjaga hubungan tetap hangat.
Untuk membaca berbagai informasi seputar psikologi dan kesehatan mental, kamu dapat mengunjungi website beningpsikologi.com.
Ikuti juga media sosial Bening Psikologi untuk mendapatkan edukasi kesehatan mental yang ringan dan mudah dipahami:
Instagram : https://www.instagram.com/beningpsikologi01/
Youtube : https://www.youtube.com/@beningpsikologi/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@beningpsikologi/
Jika kamu merasa membutuhkan bantuan untuk memahami perilaku atau dinamika hubungan dengan anak, kamu dapat berkonsultasi bersama tim profesional Bening Psikologi melalui layanan konseling yang aman dan suportif.
Untuk informasi lebih lanjut dan penjadwalan konsultasi, silakan hubungi WhatsApp Admin kami di 0815 2980 6789.
Bening Psikologi, Solusi Kesehatan Mental Anda.


