Anak yang tantrum, menolak, mudah marah, atau tiba-tiba menjadi sangat manja sering kali langsung dianggap “bermasalah”. Padahal, perilaku tersebut bisa menjadi cara anak menyampaikan sesuatu yang belum mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
Anak, terutama yang masih kecil, belum selalu memiliki kemampuan untuk mengatakan, “Aku butuh perhatian,” “Aku merasa tidak aman,” atau “Aku sedang kewalahan.” Karena itu, kebutuhan emosionalnya dapat muncul melalui perilaku.
Memahami hal ini bukan berarti membiarkan semua perilaku anak. Sebaliknya, orang tua dapat belajar melihat kebutuhan di balik perilaku sekaligus tetap memberikan batasan yang jelas.
Perilaku Anak Bisa Menjadi Bentuk Komunikasi
Ketika anak terus mengikuti orang tua, mencari perhatian, tantrum, atau menolak melakukan sesuatu, ada kemungkinan ia sedang berusaha menyampaikan kebutuhan tertentu.
Beberapa kebutuhan emosional yang sering muncul di balik perilaku anak antara lain:
- Kebutuhan akan koneksi, yaitu ingin merasa dekat, diperhatikan, dan dianggap penting.
- Kebutuhan akan rasa aman, terutama ketika anak menghadapi perubahan atau situasi yang membuatnya tidak nyaman.
- Kebutuhan untuk didengar dan dipahami, bukan hanya diberi nasihat.
- Kebutuhan akan batasan yang jelas, tetapi tetap disampaikan dengan hangat.
- Kebutuhan akan ruang untuk memilih, agar anak dapat belajar merasa mampu dan memiliki kendali.
Karena belum mampu menjelaskan semuanya, anak terkadang “berbicara” melalui perilakunya.
Mengapa Anak Bisa Lebih Mudah Meledak?
Kemampuan anak untuk mengatur emosi masih berkembang. Saat sedang sangat marah, takut, kecewa, lapar, lelah, atau terlalu banyak menerima stimulasi, anak dapat kesulitan mengendalikan responsnya.
Karena itu, ketika anak sedang mengalami ledakan emosi, memberikan ceramah panjang atau langsung menyalahkan biasanya bukan langkah pertama yang paling membantu.
Anak perlu ditenangkan terlebih dahulu agar lebih siap mendengarkan dan belajar dari situasi tersebut.
Baca Juga: Anak Sulit Lepas dari Gadget? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Dari Menyalahkan ke Memahami Kebutuhan
Orang tua tetap perlu memberikan batasan. Namun, respons dapat dimulai dengan memahami apa yang sedang terjadi.
1. Tenangkan diri terlebih dahulu
Turunkan nada suara, tarik napas, dan posisikan diri sejajar dengan anak. Respons orang tua yang lebih tenang dapat membantu anak merasa lebih aman.
2. Bantu anak mengenali emosinya
Coba gunakan kalimat sederhana seperti: “Kamu kelihatan sedang marah.” atau “Kamu kecewa karena mainannya diambil, ya?”
Anak perlahan belajar bahwa emosi dapat dikenali dan diungkapkan dengan kata-kata.
3. Tetap berikan batasan
Memahami perasaan anak bukan berarti membenarkan semua perilakunya.
Misalnya “Kamu boleh marah, tetapi melempar mainan bisa membuat orang lain sakit.”
Dengan begitu, anak belajar bahwa perasaannya diterima, tetapi perilakunya tetap memiliki batas.
4. Tawarkan perilaku alternatif
Bantu anak mengetahui apa yang bisa dilakukan ketika emosinya muncul.
Misalnya “Kalau kamu marah, kamu bisa bilang ‘Aku marah’ atau minta waktu sebentar.”
Anak tidak hanya diberi tahu apa yang tidak boleh dilakukan, tetapi juga belajar keterampilan baru untuk menghadapi emosinya.
5. Cari kebutuhan di balik perilaku
Coba tanyakan pada diri sendiri “Apa yang mungkin sedang dibutuhkan anak?”
Apakah ia lapar, lelah, membutuhkan perhatian, terlalu banyak aktivitas, merasa kehilangan kendali, atau sedang menghadapi sesuatu yang membuatnya tidak nyaman?
Mencari kebutuhan bukan berarti mencari alasan untuk membenarkan perilaku, tetapi membantu orang tua menentukan respons yang lebih tepat.
Mengapa Anak “Bermasalah” Sebenarnya Sedang “Berbicara”?
Misalnya, anak tiba-tiba melempar mainan ketika adiknya menangis.
Orang tua bisa mencoba mengatakan:
“Kamu kelihatan marah karena adik menangis, ya. Tapi melempar mainan tidak boleh karena bisa menyakiti orang. Kalau kamu ingin tenang, bilang ke Ibu atau kita cari tempat yang lebih tenang.”
Respons tersebut tetap memberikan batas, tetapi sekaligus membantu anak memahami emosi dan belajar cara menyalurkannya.
Kapan Perlu Mendapatkan Bantuan?
Tidak semua tantrum, kemarahan, atau perilaku menolak menunjukkan masalah psikologis. Namun, jika perilaku anak sangat intens, berlangsung terus-menerus, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau disertai perubahan perilaku yang signifikan, orang tua dapat mempertimbangkan konsultasi dengan psikolog anak.
Baca Juga: Kenapa Anak Takut Mengungkapkan Pendapat?
Penutup
Anak yang terlihat “bermasalah” tidak selalu sedang mencari masalah. Bisa jadi, ia sedang berusaha menyampaikan kebutuhan yang belum mampu diungkapkan dengan kata-kata.
Dengan memahami kebutuhan di balik perilaku, orang tua dapat tetap memberikan batasan tanpa harus membuat anak merasa disalahkan. Anak belajar bahwa emosinya boleh dirasakan, tetapi cara mengekspresikannya tetap perlu diarahkan.
Untuk membaca berbagai informasi seputar psikologi dan kesehatan mental, kamu dapat mengunjungi website beningpsikologi.com.
Ikuti juga media sosial Bening Psikologi untuk mendapatkan edukasi kesehatan mental yang ringan dan mudah dipahami:
Instagram : https://www.instagram.com/beningpsikologi01/
Youtube : https://www.youtube.com/@beningpsikologi/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@beningpsikologi/
Jika kamu merasa membutuhkan pendampingan dalam memahami perilaku atau kebutuhan emosional anak, kamu dapat berkonsultasi bersama tim profesional Bening Psikologi melalui layanan konseling yang aman dan suportif.
Untuk informasi lebih lanjut dan penjadwalan konsultasi, silakan hubungi WhatsApp Admin kami di 0815 2980 6789.
Bening Psikologi, Solusi Kesehatan Mental Anda.


