Anak takut bertemu orang baru sebenarnya merupakan hal yang wajar, terutama pada usia 6–24 bulan. Rasa takut ini dikenal sebagai stranger anxiety dan merupakan bagian dari perkembangan emosional serta kognitif anak.
Pada tahap ini, anak mulai mampu membedakan orang yang sudah familiar, seperti orang tua atau pengasuh, dengan orang yang belum dikenalnya. Karena itu, bayi atau toddler bisa menangis, bersembunyi di balik kaki orang tua, atau menolak ketika hendak digendong orang baru.
Mengapa Anak Takut pada Orang Baru?
Stranger anxiety biasanya mulai muncul ketika anak semakin mampu mengenali siapa yang membuatnya merasa aman. Kondisi ini umumnya mencapai puncak pada usia 7–15 bulan dan perlahan berkurang setelah usia 18–24 bulan.
Pada sebagian anak, rasa takut terhadap orang baru dapat bertahan hingga usia 2–3 tahun. Terutama jika anak memiliki temperamen yang lebih hati-hati atau membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa nyaman dengan lingkungan dan orang baru.
Jadi, ketika anak belum mau langsung berinteraksi dengan orang yang baru ditemuinya, hal tersebut tidak selalu menunjukkan adanya masalah. Anak mungkin hanya membutuhkan waktu untuk mengamati dan merasa aman terlebih dahulu.
Kapan Anak Takut Bertemu Orang Baru Perlu Diperhatikan?
Rasa takut mulai perlu dievaluasi lebih lanjut apabila intensitasnya sangat tinggi, bertahan lama, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
- Rasa takut tetap ekstrem meskipun anak sudah beberapa kali bertemu orang baru.
- Rasa takut bertahan hingga usia di atas 4–5 tahun.
- Anak mengalami kesulitan tidur, sering mimpi buruk, atau kehilangan nafsu makan.
- Anak sering menangis tanpa alasan yang jelas.
- Anak menghindari taman, kelas, acara keluarga, atau situasi sosial lainnya hingga mengganggu rutinitas.
- Anak tidak mau berinteraksi dengan siapa pun selain orang tua, bahkan ketika berada di lingkungan yang sebenarnya aman.
Jika beberapa kondisi tersebut muncul, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog anak atau dokter anak untuk membantu menilai apakah rasa takut tersebut masih sesuai dengan tahap perkembangan atau membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Baca Juga: Pelatihan Fundamental Hypnosis
Cara Membantu Anak yang Takut Bertemu Orang Baru
Orang tua tidak perlu memaksa anak untuk langsung berinteraksi. Sebaliknya, berikan kesempatan bagi anak untuk merasa aman secara bertahap.
1. Beri waktu untuk mengamati
Biarkan anak melihat dan mengamati orang baru dari jarak yang membuatnya nyaman. Ketika anak merasa lebih siap, ia dapat mulai mendekat dengan sendirinya.
2. Jadilah jembatan bagi anak
Orang tua dapat menyapa orang baru dengan tenang di depan anak. Misalnya, “Ini Tante Rina, teman Mama. Tante baik, kok.”
Tidak perlu langsung menyerahkan anak kepada orang tersebut. Biarkan anak melihat bahwa orang baru tersebut aman melalui interaksi yang dilakukan secara perlahan.
3. Kenalkan secara bertahap
Ajak anak bertemu orang lain dalam situasi yang terkontrol, seperti taman atau acara keluarga kecil. Mulailah dari interaksi singkat, kemudian tingkatkan secara perlahan sesuai kesiapan anak.
4. Hindari menakut-nakuti
Mengajarkan anak untuk berhati-hati terhadap orang asing tetap penting. Namun, penggunaan cerita atau peringatan yang terlalu menakutkan dapat membuat anak memandang setiap orang baru sebagai ancaman.
Gunakan bahasa yang lebih seimbang, misalnya, “Kalau ada orang yang belum kamu kenal, tetap dekat Mama/Papa dulu.”
5. Tunjukkan sikap tenang
Anak dapat menangkap ekspresi dan nada suara orang tua. Karena itu, ketika bertemu orang baru, usahakan tetap tenang sehingga anak mendapatkan sinyal bahwa situasi tersebut aman.
Tidak Perlu Dipaksa, Beri Anak Waktu
Takut bertemu orang baru merupakan bagian dari perkembangan yang cukup umum, terutama pada bayi dan toddler. Yang penting, orang tua tidak langsung memberi label atau memaksa anak untuk segera berinteraksi.
Dengan menjadi jembatan sosial, memberikan waktu, dan mengenalkan lingkungan secara bertahap, orang tua dapat membantu anak membangun rasa aman saat bertemu orang baru.
Jika rasa takut terasa sangat ekstrem, berlangsung jauh lebih lama dari yang diharapkan, atau sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, bantuan profesional dapat dipertimbangkan untuk mengetahui kebutuhan anak dengan lebih tepat.
Baca Juga: Anak Sering Bilang “Aku Nggak Bisa”? Kenali Penyebabnya
Penutup
Takut bertemu orang baru merupakan bagian dari perkembangan yang cukup umum pada anak, terutama di usia bayi dan toddler. Namun, jika rasa takut terasa sangat ekstrem, berlangsung lama, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut. Dengan memberikan waktu, tidak memaksa, dan mengenalkan orang atau lingkungan baru.
Untuk membaca berbagai informasi seputar psikologi dan kesehatan mental, kamu dapat mengunjungi website beningpsikologi.com.
Ikuti juga media sosial Bening Psikologi untuk mendapatkan edukasi kesehatan mental yang ringan dan mudah dipahami:
Instagram : https://www.instagram.com/beningpsikologi01/
Youtube : https://www.youtube.com/@beningpsikologi/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@beningpsikologi/
Jika rasa takut anak terhadap orang baru terasa berlebihan hingga mengganggu aktivitas, sekolah, tidur, atau interaksi sosialnya, kamu dapat berkonsultasi bersama tim profesional Bening Psikologi melalui layanan konseling yang aman dan suportif.
Untuk informasi lebih lanjut dan penjadwalan konsultasi, silakan klik tombol di bawah.
Bening Psikologi, Solusi Kesehatan Mental Anda


