Pernah merasa bertengkar dengan pasangan karena hal yang sama, padahal masalahnya sudah berkali-kali dibicarakan?
Di balik hal-hal kecil seperti telat membalas chat, lupa janji, atau pekerjaan rumah yang tidak selesai, ada kebutuhan untuk merasa dihargai atau didengar yang belum benar-benar tersampaikan.
Jadi, sebelum bertanya, “Kenapa sih kita bertengkar terus?”, mungkin ada pertanyaan lain yang perlu dilihaty yaitu pola apa yang sedang terjadi di antara kita?
Konflik yang Terlihat Belum Tentu Akar Masalahnya
Cuci piring, telat membalas chat, atau lupa janji bisa menjadi pemicu pertengkaran. Namun, ada hal lain yang sebenarnya sedang dibicarakan.
Misalnya, ketika pasangan terlambat membalas pesan, yang muncul bukan hanya rasa kesal, tetapi juga pikiran seperti, “Dia tidak menganggap aku penting.” Sementara bagi pasangan, hal yang sama mungkin terasa seperti, “Aku selalu dituntut untuk memberi kabar.”
Dari sini, emosi mulai muncul dan masing-masing bisa masuk ke mode pertahanan diri. Akhirnya, pertengkaran kembali terjadi meskipun topiknya berbeda.
Karena itu, konflik berulang bisa menjadi gejala dari masalah yang lebih dalam, tidak hanya masalah pada topik yang sedang diperdebatkan.
Kenapa Konflik Bisa Terus Berulang?
1. Ada kebutuhan yang belum tersampaikan
Di balik konflik, mungkin ada kebutuhan untuk merasa dihargai, didengar, aman, atau dianggap penting.
Ketika kebutuhan tersebut tidak dibicarakan dengan jelas, rasa kecewa bisa menumpuk. Akhirnya, hal kecil pun terasa lebih besar karena membawa akumulasi perasaan dari sebelumnya.
2. Luka keterikatan ikut terpicu
Pengalaman masa lalu juga bisa memengaruhi cara seseorang merespons hubungan. Pada sebagian orang dengan kecenderungan anxious, jarak dari pasangan bisa terasa mengancam sehingga muncul dorongan untuk mengejar, menuntut, atau terus mencari kepastian.
Sementara itu, seseorang dengan kecenderungan avoidant bisa merasa semakin tertekan ketika konflik terjadi dan memilih menjauh, diam, atau menarik diri.
3. Pengalaman lama terbawa ke hubungan sekarang
Pernah merasa responsmu terhadap pasangan jauh lebih kuat daripada situasinya? Bisa jadi ada pengalaman lama yang ikut terpicu.
Ketika perilaku pasangan mengingatkan pada pengalaman masa lalu seperti pernah diabaikan, dikritik, atau ditinggalkan, emosi yang muncul bisa terasa lebih besar. Dalam kondisi seperti ini, kita tidak hanya merespons apa yang terjadi sekarang, tetapi juga pengalaman yang pernah terasa menyakitkan.
4. Terjebak dalam pola komunikasi yang sama
Tanpa disadari, pasangan bisa memiliki pola konflik yang terus berulang.
Masalahnya, respons satu pihak kemudian menjadi pemicu bagi pihak lainnya. Akhirnya, keduanya masuk ke siklus yang sama setiap kali ada masalah kecil.
Baca Juga: Pelatihan Psikoterapi Powerful 2026
Coba Lihat Siklusnya, Bukan Hanya Pertengkarannya
Salah satu cara memahami konflik yang berulang adalah dengan melihat apa yang terjadi dari awal sampai akhir.
- Ada pemicu kecil: Misalnya chat tidak dibalas atau tugas rumah tidak dikerjakan.
- Muncul sebuah interpretasi: “Aku tidak dihargai” atau “Aku selalu dikontrol.”
- Emosi ikut aktif: Marah, takut, sedih, kecewa, atau cemas.
- Muncul reaksi untuk melindungi diri: Menyerang, membela diri, diam, atau menghindar.
- Reaksi tersebut menjadi pemicu baru: Pasangan ikut terpicu dan siklus kembali berulang.
Kalau hanya fokus pada pemicu awal, pasangan mungkin akan terus memperdebatkan siapa yang benar. Padahal, yang perlu dilihat juga adalah pola yang terjadi di antara keduanya.
Bagaimana Cara Memutus Siklus Konflik?
Coba geser pertanyaannya dari “Siapa yang salah?” menjadi, “Apa yang sebenarnya sedang kita rasakan dan butuhkan?”
Kamu dan pasangan bisa mulai dengan memperhatikan beberapa hal:
- Apa yang biasanya menjadi pemicu?
- Apa yang langsung muncul di pikiran ketika pasangan melakukan sesuatu?
- Perasaan apa yang sebenarnya ada di balik kemarahan atau sikap menjauh?
- Kebutuhan apa yang sedang ingin disampaikan?
- Apakah kita sedang masuk ke pola mengejar dan menjauh?
Ketika pola tersebut mulai terlihat, kamu bisa memberinya nama. Misalnya, “Kayaknya kita mulai masuk ke pola lama lagi, ya.”
Perbedaan dalam hubungan akan terus ada. Yang penting adalah bagaimana pasangan belajar membicarakan dan mengelolanya dengan cara yang lebih aman dan saling menghargai.
Baca Juga: Pasangan Red Flag? Kenali Tanda Hubungan yang Sehat
Penutup
Konflik yang sama terus terulang dalam hubungan bukan selalu berarti pasangan tidak cocok atau tidak bisa berkomunikasi. Bisa jadi, ada kebutuhan, pengalaman lama, atau pola interaksi yang belum benar-benar disadari.
Ketika pasangan mulai melihat pemicu, pikiran, emosi, kebutuhan, dan reaksi masing-masing, pertengkaran bisa dipahami sebagai sebuah pola. Dari sana, perubahan bisa dimulai sedikit demi sedikit.
Untuk membaca berbagai informasi seputar psikologi dan kesehatan mental, kamu dapat mengunjungi website beningpsikologi.com.
Ikuti juga media sosial Bening Psikologi untuk mendapatkan edukasi kesehatan mental yang ringan dan mudah dipahami:
Instagram : https://www.instagram.com/beningpsikologi01/
Youtube : https://www.youtube.com/@beningpsikologi/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@beningpsikologi/
Jika kamu merasa kesulitan menghadapi konflik yang terus berulang hingga mengganggu hubungan dan kesejahteraan diri, kamu dapat berkonsultasi bersama tim profesional Bening Psikologi melalui layanan konseling yang aman dan suportif.
Untuk informasi lebih lanjut dan penjadwalan konsultasi, silakan hubungi WhatsApp Admin kami di 0815 2980 6789.
Bening Psikologi, Solusi Kesehatan Mental Anda.


