Merasa ingin resign tidak selalu berarti pekerjaanmu memang harus ditinggalkan. Bisa jadi, kamu sedang mengalami burnout, yaitu kondisi lelah secara fisik, mental, dan emosional akibat tekanan yang berlangsung dalam waktu lama.
Ketika tubuh dan pikiran sudah terlalu lelah, pekerjaan yang sebelumnya biasa saja bisa terasa sangat berat. Akibatnya, muncul keinginan untuk berhenti, menjauh dari pekerjaan, atau merasa sudah tidak sanggup melanjutkan rutinitas yang sama. Sebelum mengambil keputusan besar, coba kenali dulu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Jenuh atau Burnout? Coba Bedakan
Rasa malas, jenuh, dan burnout memang bisa terasa mirip. Namun, ada beberapa hal yang dapat membantu membedakannya.
1. Saat hanya merasa malas atau jenuh
Rasa jenuh terhadap aktivitas yang monoton tidak menghilangkan energi seseorang untuk melakukan hal lain yang mereka sukai. Motivasi tersebut dapat bangkit kembali dengan adanya variasi kegiatan, tantangan baru, tenggat waktu, atau sekadar istirahat sejenak.
2. Saat mulai mengalami burnout
Burnout biasanya muncul setelah stres dan tuntutan kerja berlangsung dalam waktu lama. Rasa lelah tidak hanya muncul ketika sedang mengerjakan pekerjaan, tetapi bisa terasa bahkan sebelum mulai bekerja.
Minat terhadap aktivitas lain juga dapat ikut menurun. Hal yang sebelumnya menyenangkan, termasuk hobi, bisa terasa tidak menarik lagi. Selain itu, burnout dapat disertai kesulitan berkonsentrasi, mudah tersinggung, merasa kewalahan, hingga perubahan pola tidur.
Istirahat sebentar juga belum tentu langsung membuat kondisi pulih. Singkatnya, jenuh itu ketika kita malas melakukan satu kegiatan spesifik yang membosankan. Sementara itu, burnout adalah kondisi saat kita benar-benar kehabisan energi dan tenaga untuk melakukan aktivitas apa pun.
Coba Tanyakan Ini kepada Diri Sendiri
Sebelum memutuskan untuk resign, coba berhenti sejenak dan perhatikan kondisi diri. Beberapa pertanyaan berikut dapat membantu:
- Apakah saya hanya enggan mengerjakan tugas tertentu, atau sudah kehilangan energi untuk hampir semua hal?
- Setelah tidur cukup atau mengambil libur, apakah kondisi saya membaik?
- Apakah saya masih bisa menikmati aktivitas di luar pekerjaan?
- Apakah rasa lelah ini sudah berlangsung lama dan terus berulang?
- Apa yang sebenarnya paling menguras energi: pekerjaannya, lingkungan kerja, beban yang tidak realistis, atau kondisi pribadi?
Jika setelah beristirahat kamu masih dapat menikmati aktivitas di luar pekerjaan dan energi mulai kembali, mungkin yang dibutuhkan adalah jeda, perubahan ritme, atau penyesuaian beban kerja. Namun, jika rasa lelah dan kehilangan minat tetap muncul bahkan ketika sedang libur, kondisi tersebut perlu diperhatikan lebih lanjut.
Baca Juga: Pelatihan Fundamental Hypnosis
Jangan Langsung Mengambil Keputusan Saat Sedang Sangat Lelah
Keputusan untuk resign tentu merupakan keputusan personal yang perlu mempertimbangkan banyak hal. Namun, ketika tubuh dan pikiran sedang berada di titik paling lelah, ada baiknya memberikan ruang untuk memulihkan diri sebelum mengambil keputusan besar. Beberapa langkah yang dapat dicoba terlebih dahulu:
1. Ambil jeda atau cuti
Jika memungkinkan, gunakan waktu istirahat untuk benar-benar memulihkan energi, bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan lain.
2. Kurangi pekerjaan yang tidak mendesak
Tidak semua pekerjaan harus diselesaikan dalam waktu yang sama. Coba kembali melihat mana yang benar-benar menjadi prioritas.
3. Bicarakan beban kerja
Kalau tugas-tugas di kantor dirasa sudah dirasa di luar batas, sebaiknya langsung diskusikan hal itu dengan atasan. Pembagian tugas dan prioritas memungkinkan untuk dievaluasi kembali.
4. Evaluasi sumber masalah
Coba lihat apakah masalah sebenarnya terletak pada pekerjaan secara keseluruhan atau pada hal tertentu, seperti tim, jam kerja, tanggung jawab, atau lingkungan kerja. Jika memungkinkan, perubahan tim, jam kerja, atau tanggung jawab dapat menjadi alternatif sebelum mengambil keputusan untuk meninggalkan pekerjaan.
5. Siapkan alternatif secara perlahan
Jika setelah dievaluasi kamu tetap merasa ingin resign, persiapkan keputusan tersebut dengan lebih matang. Misalnya, mulai menyiapkan dana darurat dan mencari alternatif pekerjaan secara perlahan agar keputusan tidak diambil secara impulsif.
Kapan Resign Bisa Dipertimbangkan?
Resign tetap dapat menjadi pilihan ketika lingkungan kerja memang tidak nyaman, tidak sehat, atau terus memberikan dampak buruk terhadap kondisi diri. Namun, penting untuk membedakan antara “saya memang ingin meninggalkan pekerjaan ini” dan “saya sudah terlalu lelah untuk menjalani pekerjaan ini.” Keduanya bisa terasa sangat mirip ketika sedang berada dalam kondisi tertekan.
Karena itu, sebelum mengambil keputusan, coba beri diri sendiri kesempatan untuk beristirahat, mengevaluasi sumber masalah, dan melihat apakah kondisi berubah setelah beban berkurang.
Baca Juga: Mengenal Hustle Culture, Pola Kerja Berlebihan yang Bisa Memicu Burnout
Penutup
Memahami kondisi diri sendiri sebelum mengambil keputusan besar dapat membantu kamu menentukan langkah dengan lebih tenang. Tidak semua keinginan untuk resign harus langsung diikuti dengan keputusan untuk pergi, tetapi kondisi yang terus mengganggu keseharian juga perlu diperhatikan.
Untuk membaca berbagai informasi seputar psikologi dan kesehatan mental, kamu dapat mengunjungi website beningpsikologi.com.
Ikuti juga media sosial Bening Psikologi untuk mendapatkan edukasi kesehatan mental yang ringan dan mudah dipahami:
Instagram : https://www.instagram.com/beningpsikologi01/
Youtube : https://www.youtube.com/@beningpsikologi/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@beningpsikologi/
Jika kamu merasa kelelahan, kecemasan, gangguan tidur, atau kehilangan minat mulai mengganggu pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, kamu dapat berkonsultasi bersama tim profesional Bening Psikologi melalui layanan konseling yang aman dan suportif.
Untuk informasi lebih lanjut dan penjadwalan konsultasi, silakan klik tombol di bawah.
Bening Psikologi, Solusi Kesehatan Mental Anda


